Pertemuan Ustadz Syafiq Riza dan Khalid Basalamah

Pada 18 Oktober 2016, kedua Ustadz yang bergelar doktor, yaitu Ustadz Khalid Basalamah dan Ustadz Syafiq Riza Basalamah bertemu di Masjid Nurul Iman, Blok M Square Lantai 7. Beliau, hafizhahumullah mengisi kajian sunnah di waktu yang beriringan dimana Ustadz Khalid Basalam mengisi kajian sirah sahabat yang berjudul "Umair bin Sa'ad" radhiyallahu 'anhu, sosok sahabat nabi yang menjadi gubernur yang zuhud. Kajian ini dilaksanakan pada ba'da sholat zuhur. Setelah itu, giliran Ustadz Syafiq Riza Basalamah yang kemudian mengisi kajian dengan judul "Jangan Cemburu". Alhasil, kajian pada hari itu membludak karena diisi oleh kedua Ustadz yang sangat dicintai oleh masyarakat.

http://www.ayat-kursi.com

http://www.ayat-kursi.com

http://www.ayat-kursi.com/

Bagi anda yang tidak sempat menghadiri kajian tersebut, kami menyediakan video lengkap yang diunggah dari Salwa TV yang ada dibawah ini.




Pasca kajian sunnah tersebut, Ustadz Syafiq Riza Basalamah kembali ke Jember untuk mengajar di STDI. Kemudian, beliau menulis pesan yang berbunyi

"Akhi Ukhti….

hmm…
sejatinya aku tidak ingin menulis tentang ini
takut dikira GR
tapi karena dorongan dari ustadz-ustadz yang sebagian adalah guruku sendiri
maka aku memberanikan diri untuk menulis
maka aku mulai dengan

BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM

Menurut hematku, Tidak mungkin aku dapat membuat semua orang senang
itu adalah suatu target mustahil dan tidak boleh menjadi target seorang muslim
apalagi yang mengaku ustadz
kita itu hamba Allah yang diciptakan hanya untuk mengabdi kepadanya, dan kita telah beriqrar:

IYYAKA NA’BUDU WAIYYAKA NASTA’IN

HANYA KEPADANYA

Di berbagai tempat aku ditolak dan diusir

Namun di tempat lainnya, diantara 250 juta penduduk indonesia ada sebagian kecil sekali yang menerimaku, mereka adalah orang-orang yang berbaik sangka kepadaku…

Mereka antusias menghadiri kajianku, yang sebenarnya tidak terlalu berbobot di bandingkan dengan ustadz-ustadz yang lainnya, namun itulah keterbatasan-ku semoga Allah menambahkan ilmu dan ketakwaan.

sebagian ada yang mungkin kulihat bersikap kurang pantas kepadaku
mereka berebut bersalaman kalau itu mungkin tidak bermasalah
Namun ada yang karena tidak dapat bersalaman denganku, satu dua orang yang mencium pundakku, sebuah sikap yang seharusnya dihindari oleh seorang muslim.

ada juga yang dengan mudahnya menyematkan gelar-gelar berlebihan kepadaku, khususnya ketika ada yang menposting foto perjumpaanku dengan ustadz Khalid Basalamah, mereka tulis dan tebar di media sosial, padahal bila mereka sayang kepada ustadz mereka, niscaya mereka meninggalkan hal tersebut, perhatikan hadits di bawah ini:

Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحداً

“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (HR Bukhari)

’Umar berkata,“Pujian itu adalah penyembelihan.”
Apa tidak sadar mereka yang menuliskan pujian kepada ustadz-ustadz apalagi yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan bahwa mereka telah melakukan penyembelihan.

Ingatlah bahwa manusia yang menjadi korek api neraka kelak pada hari kiamat adalah orang-orang yang tampaknya berbuat baik untuk Allah namun di balik itu mereka mengharapkan selain Allah.

oleh karena itu bantulah orang yang kalian anggap sebagai ustadz, agar bisa menjaga hati mereka ikhlash, dengan tidak memuji dan menyanjung apalagi bertindak sesuatu yang berlebihan.

Akhi Ukhti…
Doakan semoga para ustadz dijaga oleh Allah

Berusahalah untuk mengamalkan kebenaran yang disampaikan lewat lisan atau pena mereka, bukan sibuk berfoto ria

Naiklah satu jenjang untuk menyampaikan kepada umat walaupun hanya satu ayat kepada keluargamu, kerabatmu dan masyarakat di sekitarmu

Jangan lupa untuk bersabar, jalan seorang pendakwah dihiasi dengan onak dan duri yang bertebaran.

Aku Mohon maaf, kiranya yang aku tulis kurang berkenan.

Jember, 18 Muharram 1438 H"