Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Arti dan Kedahsyatan Hasbunallah Wa Nikmal Wakil


Kalimat dzikir yang sangat mendalam ini mempunyai makna yang sangat bagus. Arti Kalimat Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal maula wa ni'mal nashir, adalah

"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, dan sebaik-baik penolong kami."

Suatu kalimat yang agung, mengandung makna-makna yang tinggi, indah kandungannya, memberi pengaruh yang kuat. Al-Hasiib adalah Dzat Yang menghitung nafas-nafasmu, yang dengan karunia-Nya Ia menjauhkan keburukan darimu, Yang diharapkan kebaikannya, dan cukup dengan karunia-Nya, dengan anugerah-Nya Ia menghilangkan keburukan.

Al-Hasiib adalah Dzat yang jika engkau mengangkat hajatmu kepada-Nya maka Iapun memenuhinya, jika ia menghukum dengan suatu keputusan maka ia menetapkannya dan menjalankannya.

وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

“Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan.” (QS. Al-Ahzaab: 36).

Maknanya adalah yang mengetahui bagian-bagian dan ukuran-ukuran yang para hamba mengetahuinya semisal ukuran-ukuran tersebut dengan cara menghitung, adapun Allah mengetahuinya tanpa menghitung.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Tholaq: 3).

Yaitu Allah akan mencukupkan urusan agama dan dunianya, Yang menghilangkan kesedihan dan kegelisahannya, dan seluruh kecukupan diperoleh maka tidaklah diperoleh kecuali dengan Allah, atau dengan sebagian makhluk-Nya, dan seluruh kecukupan yang diperoleh dengan (sebab) makhluk-Nya maka sesungguhnya diperoleh dengan-Nya.

وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Dan Allah adalah sebaik-baik sandaran.” (QS. Ali ‘Imron: 163).

Yaitu, sebaik-baik tempat bersandar kepadanya dalam memperoleh kenikmatan dan untuk menolak kemudhorotan dan bencana.

Al-Wakiil adalah Yang mengurus seluruh alam, dalam penciptaan, pengaturan, pemberian petunjuk dan taqdirnya. Al-Wakiil adalah yang dengan kebaikan-Nya mengatur segela urusan hamba-Nya, maka Dia tidak akan meninggalkan hamba-Nya, tidak membiarkannya, tidak menyerahkan hamba-Nya kepada yang lain, dan diantaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Ya Robku, hanya kepada rahmatMu-lah ku berharap, maka janganlah Engkau serahkan diriku kepada diriku meski hanya sekejap mata.”

Yaitu janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku dan memalingkan aku kepada diriku, karena barang siapa yang bertawakkal kepada dirinya maka ia telah binasa.

“Hasbunallah wani’mal wakiil” (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah sebaik-baik Sandaran) yaitu Allah cukup bagi orang yang bertawakkal kepada-Nya, yang berlindung kepada-Nya, Dialah yang menghilangkan ketakutan dari seorang yang sedang takut, Dia melindungi orang yang meminta perlindungan, Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Barangsiapa yang berloyal kepada-Nya, meminta pertolongan-Nya, bertawakal kepada-Nya, serta menyerahkan segala urusannya kepada-Nya, maka Allah akan melindunginya dengan penjagaan-Nya dan naungan-Nya. Barangsiapa yang takut kepada-Nya dan bertakwal kepada-Nya maka Allah akan menjadikannya aman dari segala yang ia takutkan dan kawatirkan. Serta Allah akan mendatangkan baginya seluruh kemanfaatan yang ia butuhkan.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Tholaq: 2-3).

Maka janganlah merasa lambat akan datangnya pertolongan Allah, rezeki-Nya dan kesembuhan dari-Nya, karena

إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (٣)

“Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Tholaq: 3).

Maksudnya tidak akan dipercepat dan tidak pula terlambat.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٦٤)

“Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS. Al-Anfaal: 64).

Yaitu Allah akan melindungimu dan melindungi para pengikutmu.

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.” (QS. Az-Zumar: 36).

Dan rahasia datangnya perlindungan Allah adalah mewujudkan peribadatan, maka semakin bertambah penghambaan (peribadatan) seorang hamba kepada Allah maka semakin bertambah pula perlindungan Allah ‘Azza wa Jalla. Maka tambahlah penghambaanmu niscaya Allah ‘Azza wa Jalla menambah penjagaan dan perlindunganNya bagimu.

“Hasbullah wa ni’mal wakiil” adalah tempat perlindungan seorang hamba tatkala dalam kondisi krisis yang parah, dalam kondisi yang sangat genting. Perkataan ini lebih kuat daripada kekuatan materi dan sebab-sebab duniawi. Perkataan ini adalah tempat bertumpu seorang muslim tatkala hartanya direbut, tatkala ia tak mampu untuk meraih haknya, tatkala sedikit pendukungnya, perkataan ini adalah penghiburnya tatkala musibah menerpa, bentengnya tatkala genting, yaitu tatkala ia mengucapkan perkataan ini dengan keyakinan yang kuat, karena ia meyakini bahwasanya “Laa haula wa laa quwwat illa billah” (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah).

Maka jika seorang hamba ditimpa kesulitan, diliputi oleh musibah lalu ia berkata “Hasbiyallahu wa ni’mal wakiil” (cukuplah Allah penolongku dan sebaik-baik sandaran) maka hatinya akan terkosongkan dari segala sesuatu kecuali Allah semata. Maka hal ini akan menjadikan seorang yang tertimpa musibah dan ujjian akan merasa dalam relung hatinya adanya keyakinan bahwasanya segala perkara di tangan Allah.

(Maha suci Allah pemilik segala kekuasaan, maha suci Allah pemilik kesombongan, maha suci Allah yang Maha hidup dan tidak akan mati). Maka akan ringan baginya kesedihan bagaimanapun beratnya, akan ringan penderitaan bagaimanapun puncaknya, karenanya penyeru dari keluarga Fir’aun berkata :

وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Mukmin: 44).

Nabi Ya’qub ‘alaihis salam berkata,

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf : 86).

“Hasbunallahu wani’mal wakiil” adalah doa permintaan, obat bagi segala yang menggelisahkan seorang muslim baik perkara dunia maupun akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من قال في كل يوم حين ي وحين يمسي : حسبي الله لا إله إلا هو ؛ عليه توكلت ، وهو رب العرش العظيم ؛ سبع مرات ؛ كفاه الله ماأهمه من أمر الدنيا والآخرة

“Barangsiapa yang setiap hari tatkala pagi dan petang mengucapkan “Hasbiyallahu laa ilaaha illah Huwa ‘alaihi tawkkaltu wa huwa Robbul ‘Arsyil ‘Adhiim” (artinya : Cukuplah Allah bagiku tiada sesembahan kecuali Dia, kepadaNya-lah aku bertawakkal, dan Dia adalah Penguasa ‘Arsy yang agung) sebanyak 7 kali, maka Allah akan memenuhi apa yang menggelisahkannya dari perkara dunia dan akhirat.”

“Hasbiyallahu wa ni’mal wakiil” diucapkan oleh Ibrahim ‘alaihis salaam tatkala dilemparkan di api, maka jadilah api tersebut dingin dan membawa keselamatan. Diucapkan pula oleh Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mereka berkata kepadanya :

إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang (yaitu kafir Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.” (QS. Ali Imron: 173).

Justru semakin menambah keimanan mereka (Nabi dan para sahabat),

فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Ali Imron: 174).

Tatkala mereka menyerahkan urusan mereka kepada Allah dan menyandarkan hati mereka kepadaNya, maka Allah memberikan kepada mereka balasan berupa empat perkara, (1) kenikmatan, (2) karunia, (3) dihindarkan dari keburukan, (4) dan mengikuti keridhoan Allah, maka mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka.

Yang dimaksud dengan menyerahkan urusan kepada Allah yaitu setelah berusaha dan berikhiyar, maka tidaklah mereka mencari kesembuhan kecuali dari-Nya, tidaklah mereka mencari kecukupan kecuali dari-Nya, tidaklah mereka kemuliaan kecuali darinya, maka seluruh perkara bergantung kepada Allah, mengharap dari-Nya.

Dan inilah doa yang dengan doa tersebut Allah menjaga kehormatan Aisyah –semoga Allah meridoinya-, tatkala ia naik tunggangannya ia berkata, “Hasbiyallahu wa ni’mal wakiil” (cukuplah Allah bagiku dan sebaik-baik Sandaran). Lalu turulah ayat-ayat yang menjelaskan sucinya Aisyah dari tuduhan keji.

“Hasbunallahu wani’mal wakiil” adalah doanya orang-orang yang kuat, dan bukan doanya orang-orang yang lemah, doanya orang-orang yang kuat hati mereka, tidak terpengaruh oleh dugaan-dugaan, tidak diganggu oleh kejadian-kejadian, tidak terkontaminasi oleh kelemahan dan ketakutan, karena mereka mengetahui bahwasanya Allah telah menjamin orang yang bertawakal kepadanya dengan jaminan penjagaan yang sempurna. Maka ia yakin kepada Allah, tenang percaya dengan janji Allah, maka sirnalah kesedihannya, hilanglah kegelisahannya, kesulitan pun berganti menjadi kemudahan, kesedihan menjadi kegembiraan, dan ketakutan menjadi ketenteraman.

“Hasbunallahu wani’mal wakiil” adalah senjata seorang dai yang menyeru kepada jalan Allah. Seorang mukmin yang benar tegar tidak tergoyahkan oleh goncangan-goncangan, ia tetap melangkah, memurnikan tawakalnya, dan baginya ganjaran yang besar. Allah berfirman :

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (QS. At-Taubah: 129).

Mereka yang menyampaikan agama Allah, mereka mengetahui bahwasanya Allah adalah penolong mereka, maka merekapun takut kepada Allah dan tidak peduli dengan orang-orang yang menghalangi, mereka yakin bahwasanya mereka di atas kebenaran, bahwasanya agama mereka benar, mereka menempuh jalannya para nabi dengan penuh kelembutan dan hikmah.

“Hasbunallah wani’mal wakiil” adalah doa rido terhadap taqdir Allah. Allah berfirman,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ (٥٨)وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُوَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ (٥٩)

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi Kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (QS. At-Taubah: 58-59).

Seandainya seorang muslim menerima keputusan Allah, rido dengan hikmah-Nya maka lebih baik dan agung baginya. Ini merupakan adab jiwa, adab lisan, dan adab iman. Ridho dengan pembagian Allah, rido dengan sikap pasrah dan menerima, bukan ridho terpaksa. Maka cukupkanlah diri dengan Allah, niscaya Allah akan mencukupkan untuk hambaNya. Dan mencukupkan diri dengan Allah merupakan sikap seorang muslim tatkala miskin dan tatkala memberi, tatkala menolak dan tatkala mengambil, dalam kondisi senang dan susah.

“Hasbiyallahu wa ni’mal wakiil”, merupakan wasiat Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya tatkala dalam kondisi berat, beliau bersabda,

كَيْفَ أُنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدِ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ فَكَأَنَّ ذَلِكَ ثَقُلَ عَلَى أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَفَقَالَ لَهُمْ قُوْلُوا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا

“Bagaimana aku tenteram sementara malaikat Israfil telah menempel pada sangkakala dan menanti izin kapan ia diperintahkan untuk meniup, maka diapun meniup.”

Maka hal ini memberatkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi berkata kepada mereka :”Ucapkanlah : “Hasbunallahu wani’mal wakiil, ‘alallahi tawakalnaa” (cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik bersandar, hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan urusan kami).

Barangsiapa yang Allah cukup baginya maka pikirannya tidak tersibukan dengan makar (rencana jahat) yang disiapkan oleh para pemakar, tidak menggelisahkannya perkumpulan orang-orang yang selalu menanti-nanti keburukan menimpa kaum muslimin, tidak juga rencana jahat ahli kufur dan orang sesat dan penipu atau orang yang menampakkan perkara yang bertentangan dengan batinnya. Karenanya Allah menenangkan Nabi-Nya dan menurunkan firman-Nya kepada Nabi,

وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ

“Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka Sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu).” (QS. Al-Anfal: 62).

Yazid bin Hakiim pernah berkata,

ماَ هِبْتُ أحداً قط هَيْبَتِي رجلاً ظلمتُه وأنا أعلم أنه لا ناصر له إلا الله، ويقول : حسبي الله، الله بيني وبينك

“Tidaklah aku takut kepada seorangpun sebagaimana ketakutanku kepada seseorang yang aku menzoliminya, dan aku tahu bahwasanya tidak ada penolong baginya kecuali Allah. Ia berkata, “Hasbiyallahu” (cukuplah Allah penolongku), ia berkata :”Antara aku dan engkau ada Allah”.

“Hasbiyallahu wa ni’mal wakiil” membuahkan kepercayaan kepada Allah subhaanahu, dan bersandar kepada-Nya, merasa Allah selalu bersamanya dalam setiap waktu dan setiap kondisi.

Jika seorang hamba telah mengetahui bahwasanya Allah yang mencukupkan rezekinya, mata pencahariannya, penjagaan dan perhatinan, pertolongan dan kejayaan, maka ia hanya akan mencukupkan dengan pertolongan Allah dari pertolongan selainNya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنِ اسْتَكْفَى كَفَاهُ اللهُ

“Barangsiapa yang mencari kecukupan (dari Allah) maka Allah mencukupkannya.”

“Hasbiyallahu wani’mal wakiil” membuahkan penyerahan seorang hamba dirinya kepada Allah, berbaik sangka kepadaNya subhaanahu, karena Allah tersifatkan dengan kekuatan yang sempurna, ilmu dan hikmah yang sempurna, dan Allah tidaklah mentakdirkan bagi hamba kecuali yang membawa kemaslahatan bagi sang hamba baik di dunia maupun akhirat.

oleh Ustadz Firanda Andirja

Tafsir Lengkap - Ayat Jangan Dekati Zina


Zina secara Bahasa, ada beberapa pengertian, diantaranya: fujur (kekejian) dan dhayyiq (penyempitan). Kata ini juga digunakan sebagai sebutan untuk perbuatan selain persetubuhan dengan wanita yang bukan istrinya.

Zina juga digunakan sebagai kata yang mengandung arti menyetubuhi wanita tanpa akad syar’i. Inilah yang dimaksud oleh keumuman nash yang menyinggung tentang zina.

Adapun menurut istilah syariat, cukup banyak definisi zina yang dikemukakan oleh para Ulama, dan semua definisi tersebut tidak jauh berbeda. Namun, definisi yang terbaik, zina adalah menyetubuhi wanita tanpa akad nikah yang sah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

كُـتِبَ عَلَـى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُـهُ مِنَ الـِزّنَا مُدْرِكٌ ذٰلِكَ لَا مَـحَالَـةَ : فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُـمَـا النَّظَرُ ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُـمَـا الْاِسْتِمَـاعُ ، وَالـِلّسَانُ زِنَاهُ الْـكَلَامُ ، وَالْيَـدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْـخُطَى ، وَالْقَلْبُ يَـهْوَى وَيَتَمَنَّى ، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَ يُـكَـذِّبُـهُ

“Telah ditentukan atas anak Adam (manusia) bagian zinanya yang tidak dapat dihindarinya : Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah dengan meraba atau memegang (wanita yang bukan mahram, Pen.), zina kaki adalah melangkah, dan zina hati adalah menginginkan dan berangan-angan, lalu semua itu dibenarkan (direalisasikan) atau didustakan (tidak direalisasikan) oleh kemaluannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Telah ditentukan atas anak Adam (manusia) bagian zinanya yang tidak dapat dihindarinya…”, yakni bahwasanya manusia pasti melakukan zina yang tidak mungkin dapat dihindarinya, kecuali orang-orang yang Allah jaga darinya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan contoh-contohnya:

Zina mata adalah memandang, yaitu bahwasanya seseorang jika melihat atau memandang wanita yang bukan mahramnya, maka ini termasuk zina mata, apalagi menonton tayangan wanita yang terbuka auratnya, atau film porno, atau melihat majalah porno, dan yang lainnya.

Zina telinga adalah mendengar, yaitu seseorang mendengar suara wanita dan menikmatinya, maka ini adalah zina telinga.

Zina lisan yaitu dengan membicarakan sesuatu yang diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla.

Juga tangan, zinanya adalah memegang, yaitu perbuatan dengan tangan seperti menyentuh wanita yang bukan mahramnya atau menciumnya, dan yang semisalnya.

Zina kaki adalah melangkah, yaitu seseorang berjalan ke tempat-tempat maksiat (tempat pelacuran), atau mendengar suara wanita kemudian dia berjalan ke arahnya, atau melihat wanita kemudian dia berjalan ke arahnya, maka ini adalah zina kaki.

Zina hati adalah menginginkan dan condong untuk mewujudkan keinginan syahwat terhadap wanita.

Lalu semua itu dibenarkan (direalisasikan) atau didustakan (tidak direalisasikan) oleh kemaluannya, yaitu jika seseorang berzina dengan kemaluan –wal ‘iyadzu billah– maka dia telah merealisasikan zina anggota tubuhnya. Adapun jika dia tidak berzina dengan kemaluannya, menyelamatkan dan menjaga dirinya, maka dia tidak merealisasikan zina anggota tubuhnya tersebut.

Hadits ini menunjukkan larangan terikat dengan wanita (yang bukan mahramnya); yaitu dengan suaranya, memandang kepadanya, menyentuhnya, berjalan ke arahnya, dan juga keinginan dan angan-angan terhadapnya. Karena itu semua termasuk jenis zina, wal ‘iyadzu billah. Maka hendaklah manusia yang berakal dan menjaga harga dirinya berhati-hati terhadap anggota tubuhnya agar tidak terikat dengan wanita.

Jika seseorang merasa dalam dirinya perkara tersebut, maka wajib baginya mejauhinya, karena setan mengalir dalam diri anak adam seperti aliran darah. Dan memandang adalah salah satu panah beracun dari panah-panah setan. Terkadang ada seseorang yang melihat wanita dan dia tidak tertarik pada awalnya, tetapi pada pandangan kedua dan ketiga akhirnya dia jadi terikat dengan wanita tersebut, wal ‘iyadzu billah. Hingga dia tidak mengingat apapun kecuali wanita tersebut, di saat duduk, berdiri, tidur dan bangun dia selalu mengingat wanita tersebut. Akhirnya perbuatannya tersebut menghasilkan kejelekan dan fitnah. Nas-alullah al’afiyah, wallahul muwaffiq.

Kepada seluruh kaum Muslimin dan Muslimah, pemuda dan pemudi, serta para remaja, terlebih lagi yang sudah nikah, ingat! Jangan dekati zina dan jangan main api! Jauhi jalan-jalan yang bisa menghantarkan kepada perbuatan zina. Saya ingatkan juga kepada para penuntut ilmu, jangan sekali-kali meremehkan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat lainnya. Sekecil apapun dosa dan maksiat pasti akan mendatangkan pengaruh buruk kepadamu, baik bagi urusan duniamu maupun akhiratmu.

Jangan dekati zina! Karena perbuatan zina ini adalah perbuatan yang buruk, keji, jorok, dan kotor serta moral yang rusak. Zina akan membawa kepada kehinaan, menyebabkan kerusakan, serta mendatangkan adzab di dunia, di kubur, dan di akhirat nanti.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” [al-Isra’/17:32].

Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan, وَلَا تَقْرَبُوا الِـزّنَـى “dan janganlah kamu mendekati zina!” Allah tidak berfirman, وَلَا تَـزْنُـوْا “Jangan berzina!” Kenapa demikian ? Karena Allah ‘Azza wa Jalla hendak menutup rapat jalan-jalan yang membawa kepada perbuatan zina.

Allah ‘Azza wa Jalla melarang mendekati jalan-jalan menuju zina, apapun bentuknya. Misalnya dengan menonton tayangan yang mengumbar aurat, membaca majalah-majalah atau buku-buku porno, khalwat (berduaan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram), berpacaran, tinggalnya seorang laki-laki di rumah bersama pembantu perempuannya atau bentuk-bentuk khalwat lain walaupun asalnya berniat baik seperti mengantarkan seorang wanita ke tempat tertentu, mengumbar pandangan, sering teleponan dengan perempuan atau sebaliknya, ber-sms-an, chatting, facebook, whatsapp, bbm dan beragam sarana lainnya yang akhirnya akan menjerumuskan manusia kepada perzinaan. Na’udzubillahi min dzalik! Nas-alullaha as-Salamah wal-‘afiyah.

Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan :

إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“(Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lafazh ‘al-fahisyah’ adalah ‘dzanban azhiman’, yaitu dosa yang besar.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَذَرُوا ظَاهِرَ الْإِثْمِ وَبَاطِنَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَكْسِبُونَ الْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ

“Dan tinggalkanlah dosa yang terlihat ataupun yang tersembunyi. Sungguh, orang-orang yang mengerjakan (perbuatan) dosa kelak akan diberi balasan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” [al-An’am/6:120].

Maksud dari firman Allah ‘Azza wa Jalla, yang artinya, “tinggalkanlah dosa yang terlihat ataupun yang tersembunyi”, yakni perbuatan maksiat, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Sebagian ahli tafsir menafsirkan bahwa “dosa yang tampak” maksudnya berzina dengan pelacur. Dan yang “tersembunyi” maksudnya berzina dengan kekasih, teman perempuan, dan pacar. Dikatakan oleh Ikrimah bahwa “dosa yang nampak” adalah menikahi mahram (misalnya, menikahi kakak atau adik perempuan, atau ibu).

Zina adalah jalan yang paling jelek! Zina adalah perbuatan yang kotor, moral yang paling buruk, serta akhlak yang paling rendah dan jelek!

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata, “Wahai orang yang tertipu dengan angan-angan! Ingatlah sesungguhnya Iblis dilaknat dan diusir dari tempat kemuliaan dengan sebab membangkang (perintah Allah ‘Azza wa Jalla) yaitu tidak mau sujud sekali saja (kepada Adam). Kemudian Adam dikeluarkan dari Surga disebabkan satu suapan yang ia makan (dari pohon yang dilarang). Dan tertahannya orang yang membunuh untuk masuk ke dalam Surga dengan sebab satu tapak tangan darah yang ia tumpahkan. Diperintahkan untuk membunuh pezina dengan sejelek-jelek pembunuhan dengan sebab ia memasukkan (kemaluaan) sepanjang jari ke dalam (kemaluan) wanita yang tidak halal baginya…”

Zina adalah perbuatan keji atau kotor yang membawa kepada kebinasaan. Zina merupakan perbuatan yang benar-benar keji dan jorok, dan hal ini diakui oleh setiap orang yang berakal, juga oleh sebagian besar jenis binatang.

Bahkan di kalangan monyet pun tidak menerima perbuatan zina yang kotor dan hina ini. Amr bin Maimun al-Audi radhiyallahu ‘anhu berkata :

رَأَيْـتُ فِـي الْـجَاهِلِـيَّـةِ قِـرْدَةً ، اِجْتَمَعَ عَلَيْهَا قِرَدَةٌ قَدْ زَنَتْ فَـرَجَـمُوْهَـا…

Aku menyaksikan di zaman Jahiliyyah dulu ada seekor monyet yang berzina. Lantas berkumpullah monyet-monyet lainnya untuk melemparinya dengan batu (dirajam)…(HR. Bukhari).

Saudaraku kaum muslimin,

Ketahuilah bahwa perbuatan zina adalah suatu perbuatan yang sangat memalukan, menjijikkan dan moral yang paling rusak. Perbuatan zina menurunkan kadar keimanan seorang muslim, hingga seperti akan keluar dari hatinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا زَنَى الرَّجُلُ خَرَجَ مِنْهُ الْإِيْمَـانُ كَانَ عَلَيْهِ كَالظُّـلَّـةِ ، فَإِذَا انْقَلَعَ رَجَعَ إِلَيْهِ الْإِيْمَـانُ

“Apabila seseorang berzina maka imannya akan keluar di atasnya seolah-olah sebuah naungan. Jika ia kembali (bertaubat), maka imannya akan kembali.” (HR. Abu Dawud dan Hakim).

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

يُنْزَعُ مِنْهُ نُوْرُ الْإِيْمَانِ فِيْ الزِّنَا

“Dicabut nur (cahaya) keimanan dalam perbuatan zina.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَا يَـزْنِـيْ الزَّانِـيْ حِيْـنَ يَـزْنِـيْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَسْـرِقُ السَّارِقُ حِيْـنَ يَسْـرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَشْرَبُ الْـخَمْرَ حِيْـنَ يَشْـرَبُـهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَـنْـتَهِبُ نُـهْبَـةً ذَاتَ شَرَفٍ يَـرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِـيْـهَا أَبْصَارَهُمْ حِيْـنَ يَـنْـتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah berzina seorang pezina, ketika berzina ia dalam keadaan beriman, tidaklah seorang pencuri, ketika ia mencuri dalam beriman, tidaklah seorang peminum khamr, ketika ia meminumnya ia dalam keadaan beriman, tidaklah seorang yang menjarah suatu jarahan yang berharga yang disaksikan oleh manusia, ketika ia menjarahnya dalam keadaan beriman.” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan selainnya).

Faidah hadits :

Pertama: Zina tidak hanya terbatas pada kemaluan, namun pandangan, pembicaraan, dan pendengaran juga disebut zina sebab semua itu dapat mengundang zina yang sebenarnya. Oleh karena itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang membenarkan atau mendustakannya adalah kemaluan”.

Kedua: Laki-laki dan wanita harus menundukkan pandangan (lihat an-Nur/24:30-31).

Ketiga: Pandangan adalah panah beracun dari panah-panah iblis.

Keempat: Bila seseorang sering memandang wanita bisa merubah hatinya, akalnya, ibadahnya, dan lainnya.

Kelima: Sesungguhnya perbuatan zina selalu diawali dengan pandangan, pembicaraan, dan sentuhan.

Keenam: Haram memandang ke dalam rumah seseorang tanpa izin.

Ketujuh: Zina adalah perbuatan keji, kotor, dan moral yang rusak.

Kedelapan: Zina yang harus dihukum hadd, hanya zina dengan kemaluan.

Kesembilan: Sejak zaman azali (dahulu kala), Allah mengetahui takdir-takdir manusia. Tidak ada sedikitpun yang menyalahi Ilmu-Nya dan Ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

Kesepuluh: Allah memberikan kemampuan kepada hamba-Nya untuk menahan diri dari sesuatu yang telah Allah haramkan baginya.

Kesebelas: Hadits ini merupakan bimbingan Nabi untuk meninggalkan zina, menjauhi segala hal yang mendorong untuk melakukannya, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dapat menjurus kepada zina, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’/17:32).

Kedua belas: Semua jalan atau sebab yang membawa kepada perzinaan wajib ditutup dan dilarang.

oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Arti Kun Fayakun dan Tafsirnya


Dahsyatnya Kun Faya kun merupakan sebuah kata-kata yang sangat mempunyai arti yang mendalam. Lalu, apa sebenarnya makna dari Kunfayakun? Kemudian, bagaimana dengan penciptaan langit dan bumi selama enam hari? Kita akan membahasnya di bawah ini.

Telah menjadi ketentuan menurut ahlu iman yang kuat dan ketauhidan yang sempurna, bahwa Allah Jalla Wa’ala Maha mampu segala sesuatu, kekuasan-Nya maha suci tanpa batas, maka bagi-Nya kukuasaan penuh, dan keinginan yang sempurna, akhir semua masalah dan qado’. Kalau menginginkan sesuatu, maka akan jadi seperti yang diinginkan dan pada waktu yang diinginkan serta dengan cara yang diinginkan-Nya Subhanahu Wa Ta’ala.

Telah ada nash-nash yang pasti dari Kitab Tuhan kita dan sunnah Nabi kita sallallahu’alaihi wa sallam akan penetapan hal ini serta penjelasan yang gamblang tidak ada keraguan.

Kami cukupkan disini dengan menyebutkan sebagian ayat yang manunjukkan akan hal itu. diantaranya Firman-Nya Ta’ala:

( بديع السموات والأرض وإذا قضى أمراً فإنما يقول له كن فيكون ) البقرة /117

"Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia.” [QS. Al-Baqarah: 117].

Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsiri ayat ini, 1/175: ‘Hal itu Allah menjelaskan kesempurnaan kekuasaan-Nya, keagungan kerajaan-Nya. Kalau sekiranya ingin mentakdirkan suatu perkara dan menginginkan sesuatu, (cukup) dengan mengatakan kun (jadilah) hanya sekali, maka jadilah (fa yakun). Yakni maka akan ada sesuai dengan keinginan-Nya sebagaimana firman-Nya, ‘Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.’ [QS. Yasin: 82]. Begitu juga Firman Allah, ‘." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia.” [QS. Ali Imron: 47]. Firman-Nya Ta’ala, ‘Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia.” [QS. Ghofir: 68]. Firman lainnya, ‘Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.’ [QS. Al-Qamar: 50].


Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya ketika menafsiri ayat ini, 4/261: “Ini adalah kabar akan pelaksanaan dari perintah-Nya dipenciptaan-Nya. Sebagaimana dikabarkan melaksanakan kekuasan-Nya kepada mereka, sehingga Allah berfirman ‘Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan.’ Yakni sesungguhnya kami memerintahkan sesuatu sekali saja, tidak membutuhkan penguatan kedua kali. Maka akan jadi apa yang Kami perintahkan itu akan terjadi dan ada hanya sekejap mata, tidak terlambat dari sekejap mata. Alangkah indahnya ungkapan sebagian ahli syair:
‘Ketika Allah menginginkan sesuatu, cukup hanya mengatakan ‘Jadilah’ dalam ucapan, maka akan jadi.’ Selesai.

Disana ayat-ayat lain yang menegaskan dan menjelaskan masalah ini. Kalau hal ini telah mantap, kenapa Allah Jalla Jalaluhu menciptakan langit dan bumi selama enam hari?

Pertama, telah ada banyak ayat di Kitab Tuhan kami bahwa Allah Jalla Wa’ala menciptakan langit dan bumi selama enam hari. Diantaranya adalah firman-Nya Ta’ala:

( إن ربكم الله الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش ... ) الأعراف /54

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy.” [QS Al-A’raf: 54].

Kedua, tidaklah suatu urusan yang Allah lakukan, melainkan di dalamnya terdapat hikmah nan dalam. Dan ini termasuk diantara arti nama Allah Ta’ala ‘Al-Hakim (Maha Bijaksana)’.

Hikmah ini terkadang Allah nampakkan dan terkadang tidak dinampakkan. Terkadang diketahui dan dibuat istimbat (pengambil hukum) bagi orang yang mendalam ilmunya tanpa (diketahui) oleh orang lain.

Meskipun begitu, ketidaktahuan kita tentang hikmah ini, tidak menjadikan untuk meniadakan atau menolak hukum-hukum Allah dan mencoba dengan memaksakan dan bertanya-tanya tentang hikmah yang Allah sembunyikan ini.

Allah Ta’ala berfirman:
( لا يُسأل عما يفعل وهم يسألون ) الأنبياء /23
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” [QS. Al-Anbiya’: 23].

Sebagian ulama’ mencoba untuk mencari hikmah dari penciptaan langit dan bumi selama enam hari,

1.       Imam Al-Qurtuby rahimahullah berkata dalam tafsirannya ‘Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an’ pada surat Al-A’raf: 54, 4/7/140, "Disebutkan masa ini yakni enam hari. Kalau ingin menciptakan dalam waktu sekejap, pasti akan dilakukan. Dimana Dia Maha Mampu dengan mengatakan ‘jadilah’ maka akan jadi. Akan tetapi Dia menginginkan, agar para hamba mengetahui sisi kelembutan dan ketepatan dalam segala urusan. Agar terlihat kemampuan-Nya kepada Malaikat sedikit demi sedikit. Dan hikmah lainnya, diciptakan selama enam hari, karena segala sesuatu di sisi-Nya ada ajalnya. Hal ini menjelaskan dengan membiarkan pelaku kemaksiatan mengobati dengan hukuman, karena segala sesuatu disisi-Nya telah ada ajalnya."

2.       Ibnu Al-Jauzi berkata di tafsirnya yang dinamakan ‘Zadul Masir, 3/162 dalam menafsiri ayat di surat Al-A’raf, "Kalau dikatakan, kenapa tidak diciptakan sekejep. Karena Dia mampu (melakukannya)? Dari sini ada lima jawaban :

Yang pertama, Dia menginginkan ketepatan setiap hari suatu masalah yang diagungkan oleh para Malaikat dan orang yang menyaksikannya. (Jawaban) ini disebutkan oleh Ibnu Al-Anbari

Kedua, Dia menguatkan sebagai pembukaan apa yang akan diciptakan untuk Adam dan keturunannya sebelum diciptakan. (Hal itu akan) lebih kuat pengagungannya di sisi para Malaikat

Ketiga, Bahwa lebih cepat itu lebih mengena dari sisi kekuasaan. Sedangkan lebih tepat itu lebih mengena dari sisi hikmah. Maka ingin memperlihatkan hikmah dalam hal itu, sebagaimana terlihat kekuasan-Nya dalam ungkapan ‘Kun Fayakun.

Keempat, Bahwa "Dia mengajarkan kepada para hamba-Nya agar lebih tepat, kalau melakukan yang lebih tepat itu dilakukan oleh yang tidak pernah tergelincir, maka orang yang (sering) punya kegelinciran itu lebih utama untuk lebih tepat (dalam seluruh urusannya).
Kelima, dengan berlahan-lahan dalam menciptakan sesuatu. Akan lebih jauh persangkaan, bahwa hal itu terjadi secara tabiat atau kebetulan saja."

3.       Al-Qadi Abu As-Saud berkata dalam tafsirnya pada ayat di surat Al-A’raf, 3/232, "Dalam menciptakan sesuatu secara berlahan-lahan, padahal mampu menciptakan secara langsung, sebagai tanda pilihan, diambil pelajaran bagi yang melihat dan anjuran untuk tenang dalam segala urusan."

Dan beliau berkata tentang tafsir ayat (59) dari surat Al-Furqan, 6,266: "Sesungguhnya yang menciptakan makhluk begitu besar dengan sangat teliti serta kesinambungan nan indah, pengaturan yang kuat, ketertiban yang tepat pada waktu-waktu tertentu. Disertai dengan kesempurnaan kekuasaan-Nya untuk langsuang menciptakan, terdapat hikmah nan agung, tujuan nan indah dimana akal fikiran tidak dapat memperincinya."

Dari perincian tadi, maka jelaslah bahwa Allah yang tinggi kemampuan-Nya, agung kekuasan-Nya. Mempunyai kekuatan penuh, akhir (segala) keinginan, kesempurnaan mengatur. Dia mempunyai pada setiap makhluknya, hikmah-hikmah yang tinggi yang tidak dapat diketahui melainkan Dia.

Begitu juga telah jelas bagi anda sebagian hikmah-hikmah serta rahasia penciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala langit dan bumi pada waktu enam hari, meskipun Dia Mampu menciptakannya dengan ucapan "Kun (jadilah)"

Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita, keluarga serta para shahabat.

oleh Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid