Featured Post

Ad Block

70 Ribu Malaikat Beserta Ayat Kursi, Benarkah?


Beredar sebuah hadist yang menjelaskan tentang keutamaan ayat kursi, hadits ini berbunyi "Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum keluar rumahnya, maka Allah SWT akan mengutuskan 70,000 Malaikat kepadanya – mereka semua akan memohon keampunan dan mendoakan baginya."

Pertanyaan : Benarkah hadits tersebut?

Jawaban :

Sebagaimana karakteristik hadits palsu/ma’udhu adalah pahala yang besar-besaran, saking besarnya untuk menarik kaum muslimin mengamalkannya, padahal bukan bagian dari agama, dan ini adalah upaya ahlul bid’ah untuk mengaburkan kaum muslimin dari agama sebenarnya.

Keterangan pahala ini tidak ada asalnya. Kalau tidak ia berdusta atau ia berhujjah dengan hadits dhoif. Cukuplah doa dan dzikir ketika hendak pergi adalah :

بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ.

“Dengan nama Allah (aku keluar). Aku bertawakkal kepadaNya, dan tiada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah”. [HR. Abu Dawud 4/325, At-Tirmidzi 5/490, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/151.]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak setan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi”. [HR. Seluruh penyusun kitab Sunan, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/152 dan Shahih Ibnu Majah 2/336.]

Adapun jika ia naik kendaraan, umpama motor dan mobil, atau pesawat, ditambah dzikir menaiki kendaraan :

بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

“Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Maha Suci Engkau, ya Allah! Sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” [HR. Abu Dawud 3/34, At-Tirmidzi 5/501, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/156.]

Menyingkap Rahasia Baca Ayat Kursi 1000 Kali


Banyak orang yang berzikir, atau membaca ayat-ayat tertentu seperti Ayat Kursi sebanyak 1000x atau 170x, demi mendapatkan keutamaan-keutamaan tertentu. Padahal, jelas ini tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi Wa Sallam. Lalu, bagaimana dengan dzikir yang nabi tidak membatasi bilangannya, apakah boleh kita tetapkan dengan bilangan tertentu seumpama 100 atau 1000 kali?

Para ulama menerangkan, ada dua kekeliruan dalam hal dzikir:

1. Menetapkan jumlah bilangan tertentu tanpa dalil.
2. Menetapkan tata cara dan waktu tertentu untuk dzikir tanpa dasar dalil.

Hal ini sebagaimana diingkari oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di mana suatu saat ada orang-orang yang berdzikir dengan menggunakan krikil lalu ada yang menuntun untuk membaca takbir sebanyak 100 kali dan tasbih sebanyak 100 kali. Padahal tata cara seperti ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang berdzikir seperti itu mengatakan pada Ibnu Mas’ud,

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.

“Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

Ibnu Mas’ud lantas menjawab,

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi 1: 79. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayyid)


Beberapa bentuk bid’ah yang disebutkan oleh Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya Al-I’tisham:

1. Menetapkan batasan tertentu untuk ibadah seperti bernadzar dengan bentuk puasa sambil berdiri, tidak boleh duduk, dan tidak boleh bernaung dari panas. Bentuknya pula dengan mengkhususkan diri pada sesuatu, bahkan untuk makan dan berpakaian ditentukan dengan jenis tertentu, tidak boleh dengan selainnya.

2. Mewajibkan tata cara tertentu untuk dzikir seperti dengan cara dzikir jama’i dengan satu suara. Termasuk contoh di dalamnya adalah perayaan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Mewajibkan ibadah di waktu tertentu padahal tidak ditetapkan oleh syari’at seperti mewajibkan puasa dan shalat nishfu Sya’ban.

Jika ingin menetapkan dzikir sebanyak 1000 kali mesti butuh dalil. Jika tidak, maka tidak boleh diamalkan. Karena beragama itu mesti dengan dalil, bukan dengan perasaan, bukan dengan logika.


Lalu, kapan zikir sebanyak 1000 kali menjadi bid'ah yang terlarang?

Jawaban permasalahan ini perlu rincian. Pertama, menetapkan bilangan tertentu dan komitmen melakukannya karena keyakinan bahwa bilang tersebut memiliki keutamaan tertentu maka ini adalah hal yang keliru dalam syariat. Kedua, seorang yang ingin menggembleng dirinya dengan membaca tasbih 1000 kali dalam sehari sehingga aku bisa rutin membaca tasbih sebanyak itu. Tindakan semacam ini sejenis dengan orang yang mentargetkan dirinya untuk rutin setiap hari membaca sebanyak dua juz dari al Quran. Oleh karena ini dia paskakan dirinya untuk bisa menyelesaikan target tersebut. Hal ini diperbolehkan. Lain halnya dengan dengan orang merutinkan diri membaca dua juz dari al Quran setiap harinya atau bertasbih sebanyak 1000 kali karena adanya keyakinan bahwa hal tersebut memiliki keutamaan khusus.

Rincian ini disimpulkan dari praktek salaf. Diriwayatkan oleh Ibnu Saad dan dinilai shahih oleh Ibnu Hajar dalam al Ishabah bahwa shahabat Nabi, Abu Hurairah setiap hari membaca tasbih sebanyak 12000 kali. Artinya beliau memaksa dirinya agar bisa memenuhi target ini setiap harinya.

Kesimpulannya, siapa yang menargetkan diri untuk berdzikir dalam jumlah tertentu agar bisa berjihad memaksa dirinya untuk mencapai bilangan yang ditargetkan hukumnya tidak mengapa. Lain halnya orang yang melakukan hal ini tersebut karena menyakini bahwa bilangan tersebut memiliki keutamaan tertentu maka perbuatan tersebut tergolong bid’ah.

oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dan Ustadz Aris Munandar

Bolehkah Wanita Haid Membaca Ayat Kursi?

http://www.ayat-kursi.com

Sebagian orang menganggap bahwa wanita haid dilarang membaca Ayat Al Qur'an, termasuk di dalamnya adalah Ayat Kursi? Lalu, bagaimana sebenarnya hukum membaca ayat kursi bagi wanita haid?

Jawaban :

Diperbolehkan bagi wanita yang sedang haid untuk membaca Al-Quran, yang termasuk didalamnya, yaitu Ayat Kursi dan surat-surat lainnya karena tidak adanya dalil yang shahih yang melarang. Bahkan dalil menunjukkan bahwa wanita yang haid boleh membaca Al-Quran, diantaranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha yang akan melakukan umrah akan tetapi datang haid:

ثم حجي واصنعي ما يصنع الحاج غير أن لا تطوفي بالبيت ولا تصلي

“Kemudian berhajilah, dan lakukan apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji kecuali thawaf dan shalat.” (HR.Al-Bukhary dan Muslim, dari Jabir bin Abdillah)

Berkata Syaikh Al Albani:

فيه دليل على جواز قراءة الحائض للقرآن لأنها بلا ريب من أفضل أعمال الحج وقد أباح لها أعمال الحاج كلها سوى الطواف والصلاة ولو كان يحرم عليها التلاوة أيضا لبين لها كما بين لها حكم الصلاة بل التلاوة أولى بالبيان لأنه لا نص على تحريمها عليها ولا إجماع بخلاف الصلاة فإذا نهاها عنها وسكت عن التلاوة دل ذلك على جوازها لها لأنه تأخير البيان عن وقت الحاجة لا يجوز كما هو مقرر في علم الأصول وهذا بين لا يخفى والحمد لله

“Hadist ini menunjukkan bolehnya wanita yang haid membaca Al-Quran, karena membaca Al-Quran termasuk amalan yang paling utama dalam ibadah haji, dan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membolehkan bagi Aisyah semua amalan kecuali thawaf dan shalat, dan seandainya haram baginya membaca Al-Quran tentunya akan beliau terangkan sebagaimana beliau menerangkan hukum shalat (ketika haid), bahkan hukum membaca Al-Quran (ketika haid) lebih berhak untuk diterangkan karena tidak adanya nash dan ijma’ yang mengharamkan, berbeda dengan hukum shalat (ketika haid). Kalau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Aisyah dari shalat (ketika haid) dan tidak berbicara tentang hukum membaca Al-Quran (ketika haid) ini menunjukkan bahwa membaca Al-Quran ketika haid diperbolehkan, karena mengakhirkan keterangan ketika diperlukan tidak diperbolehkan, sebagaimana hal ini ditetapkan dalam ilmu ushul fiqh, dan ini jelas tidak samar lagi, walhamdu lillah.” (Hajjatun Nabi hal:69).

Namun jika orang yang berhadats kecil dan wanita haid ingin membaca Al-Quran maka dilarang menyentuh mushhaf atau bagian dari mushhaf, dan ini adalah pendapat empat madzhab, Hanafiyyah [Al-Mabsuth 3/152], Malikiyyah [Mukhtashar Al-Khalil hal: 17-18], Syafi’iyyah [Al-Majmu’ 2/67], Hanabilah [Al-Mughny 1/137].

Mereka berdalil dengan firman Allah ta’alaa:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ (الواقعة: 79)

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.”

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mushaf yang kita dilarang menyentuhnya adalah termasuk kulitnya/sampulnya karena dia masih menempel. Adapun memegang mushhaf dengan sesuatu yang tidak menempel dengan mushhaf (seperti kaos tangan dan yang sejenisnya) maka diperbolehkan.

Zakir Naik - Tahlilan dan Yasinan Bukan Ajaran Nabi?


Bagaimana sosok Zakir Naik yang dikenal sangat berjasa besar dalam menyikapi permasalahan seputar Tahlilan dan Yasinan. Video ini membahasnya dalam Islam beserta sikap para ulama terdahulu tentang kedua hal tersebut. Lihat juga sikap Zakir Naik tentang masalah Maulid Nabi di Maulid Nabi menurut Zakir Naik. Silakan anda simak video dibawah ini.

Kandiyas itu Setan, Bukan Malaikat

Sebagian orang masih mempercayai bahwa Kandias, atau Sayyid Kandias adalah seorang Malaikat. Padahal, sebenarnya kandiyas adalah jin yang biasanya mereka menggunakannya sebagai khodam. Mereka memanggilnya dengan membaca wirid-wirid tertentu yang tidak pernah di amalkan sama sekali oleh Rasulullah shallalahu alaihi wasallam. Padahal, telah jelas mengenai Hukum Jin Khodam Menurut Islam. Rasulullah juga bersabda tentang apa Malaikat, “Malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan cari apa yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah)”. [HR. Muslim]

Beriman kepada para Malaikat merupakan pengalaman dari rukun iman yang kedua. Berarti keimanan seorang hamba kepada Allah belum sempurna jika tidak dibarengi dengan rukun iman yang lainnya, termasuk beriman kepada para malaikat.


Allah berfirman, “Rasul telah beriman kepada (Al-qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya. Demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya pada para rasul-Nya, kitab-kitab dan para Rasul-Nya…”. [QS. Al-Baqarah : 275].

Ketika Rasulullah ditanya tentang iman, beliau menjawab, “Iman adalah hendaklah kamu percaya (beriman) kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan para Rasul-Nya. (HR. Muslim)

Imam Al-Baihaqi berkata, “Iman kepada Malaikat mengandung beberapa maksud : Pertama, membenarkan dan meyakini bahwa malaikat itu benar-benar ada. Kedua, mengakui dan menempatkan posisi mereka secara proporsional. Mereka adalah makhluk Allah seperti manusia dan jin. Mereka tidak akan berkuasa untuk berbuat apa-apa, kecuali yang sudah ditetapkan Allah bagi mereka. Kita tidak boleh mensifatkan mereka dengan sifat yang bisa membuat kita menyekutukan Allah dengan mereka. Ketiga, kita mempercayai bahwa di antara para malaikat itu ada yang menjadi utusan Allah kepada manusia yang dikehendaki Allah, atau mereka diutus Allah ke kelompok manusia lain.” [Kitab Syu’abul Iman : 1/163]

Jumlah malaikat sangat banyak sekali. Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka secara pasti kecuali Allah “Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu kecuali Dia sendiri…” [QS. Al-Muddatstsir : 31].

Rasulullah bercerita seputar pengalamannya sewaktu Isra’ dan Mi’raj setelah melewati langit yang ketujuh, “…Kemudian aku dinaikkan ke ke Baitul Makmur, tiba-tiba aku menjumpai pada setiap harinya tempat itu dimasuki oleh 70 ribu malaikat, dan kelompok itu tidak akan punya kesempatan lagi untuk memasuki Baitul Makmur itu sampai hari Akhir….”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagian masyarakat kita belum kenal betul dengan karakteristik malaikat-malaikat Allah, sehingga di antara mereka ada yang meminta bantuan kepada para malaikat untuk mengatasi problema kehidupan yang datang silih berganti tak kunjung selesai. Bahkan sebagian manusia ada yang menjadikan malaikat sebagai Tuhan yang mereka sembah. Maka dari itu Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya untuk tidak terjerumus dalam kesyirikan, “Dan dia (Nabi) tidak menyuruhmu menjadikan Malaikat dan para Nabi sebagai tuhan. Apakah patut ia menyuruhmu kepada kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam ?” [QS. Ali ‘Imran : 80].

Pemahaman yang salah dan menyimpang akibat kurangnya ilmu syari’at, serta minimnya mereka menelaah dalil yang menjelaskan seputar kehidupan malaikat. Atau kecintaan mereka kepada para malaikat yang berlebihan. Akhirnya mereka mudah ditipu oleh jin dan syetan yang datang mengaku sebagai malaikat.

Sehingga di antara manusia dewasa ini ada yang mengaku telah didatangi malaikat Jibril dan mendapatkan wahyu darinya. Karena kedatangannya sudah berulang kali, dan nasehat yang diterimanya menurutnya adalah baik. Maka dengan tidak canggung lagi dia mendeklarasikan dirinya sebagai Nabi baru. Atau sepak terjangnya sudah didasarkan lagi pada ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadist, karena dia merasa sudah mempunyai ajaran lain yang diterima secara langsung dari malaikat Jibril.

Dan juga orang yang berusaha untuk memperdalam ilmu hikmah serta mengasah kemampuan spiritualnya dengan cara yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Saat menjalani “olah spiritual” itu dia didatangi oleh sosok yang mengaku sebagai malaikat utusan Allah untuk menyampaikan benda pusaka atau ilmu kekebalan yang tidak dimiliki manusia kebanyakan. Mereka percaya itu merupakan ‘wahyu’ berasal dari ‘malaikat’ tersebut, tanpa guru lagi mereka mengamalkannya dan meninggalkan ajaran Rasulullah. Bahkan ada juga manusia yang senang menjalani ibadah kepada Allah, lalu datanglah ‘khodam malaikat’ menghampirinya lalu memberikan ritual atau wirid tambahan, yang bisa menjadikan orang itu hebat punya berbagai ilmu kesaktian bahkan seolah-olah menyamai mukjizat para Rasul. Akhirnya dia pun mengamalkan ‘wahyu tambahan’ tersebut sambil mengamalkan ibadah-ibadah lainnya.

Padahal itu ulah jin dan syetan untuk menyesatkan hamba-hamba Allah yang masih lemah akidahnya, atau untuk menguji mereka kepada Allah, kalau iman mereka lemah, pasti dengan mudah mereka akan datang sebagai sosok Khodam Malaikat tersebut. Akhirnya mereka terperosok dalam amalan yang mengandung bid’ah dan syirik. Dengan begitu berarti mereka menyembah jin-jin yang bersosok malaikat tersebut (yang mereka percayai sebagai khodam suatu azimat tertentu, atau bahkan khodam mantra-mantra ilmu kesaktian). Tapi kalau iman orang tersebut kuat, mereka tidak akan terpengaruh dengan “datangnya” malaikat-malaikat gadungan tersebut. Mereka akan tetap tekun beribadah kepada Allah sesuai tuntunan Rasulullah.

Sebetulnya kita sudah diingatkan oleh Al-Qur’an agar waspada terhadap tipu muslihat syetan yang bermodus sosok khodam malaikat. Pada hari kebangkitan nanti Allah bertanya kepada para malaikat-Nya tentang pebuatan orang-orang yang musyrik, “Dan ingatlah (pada waktu) Allah mengumpulkan mereka berfirman kepada para malaikat : ‘Apakah mereka itu dahulunya menyembah kamu ? Para malaikat menjawab : ‘Maha suci Engkau, Engkaulah Pelindung kami bukan mereka, justru mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman jin itu”. [QS. Saba’: 34].

Oleh sebab itu, kita harus waspada terhadap kehadiran makhluk ghaib dalam kehidupan ini, baik yang hadir di alam mimpi atau di alam nyata. Yang terang-terangan mengaku sebagai jin muslim atau mengaku sebagai Malaikat. Kita sudah tidak butuh pentunjuk-petunjuk mereka yang sering disebut dengan ‘wangsit’. Cukup bagi kita petunjuk Allah dan Rasul-Nya, agar tidak tersesat di dunia maupun di Akhirat. Jangan terpedaya oleh tipu daya syetan yang mengaku Malaikat.

Faedah Dahsyat dari Nama Allah Al Hayyu Al Qayyum

Sebagian ulama memasukkan nama Al-Hayyu Al-Qayyum dalam nama Allah yang agung (ism Allah al-a’zham) seperti yang dipilih oleh Ibnul Qayyim dalam Zaad Al-Ma’ad (4: 187). Dasarnya adalah hadits berikut.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّى ثُمَّ دَعَا اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ.

فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى »

Dari Anas, ia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dalam keadaan duduk lantas ada seseorang yang shalat, kemudian ia berdo’a, “Allahumma inni as-aluka bi-anna lakal hamda, laa ilaha illa anta al-mannaan badii’us samaawaati wal ardh, yaa dzal jalali wal ikram, yaa hayyu yaa qayyum [artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu karena segala puji hanya untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Banyak Memberi Karunia, Yang Menciptakan langit dan bumi, Wahai Allah yang Maha Mulia dan Penuh Kemuliaan, Ya Hayyu Ya Qayyum –Yang Maha Hidup dan Tidak Bergantung pada Makhluk-Nya-].”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ia telah berdo’a pada Allah dengan nama yang agung di mana siapa yang berdo’a dengan nama tersebut, maka akan diijabahi. Dan jika diminta dengan nama tersebut, maka Allah akan beri.” [HR. Abu Daud no. 1495 dan An-Nasa’i no. 1301. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih].

http://www.ayat-kursi.com

Ibnul Qayyim dalam Zaad Al Ma’ad (4: 187) berkata, “Do’a ‘yaa hayyu yaa qayyum, bi rahmatika astaghits …’ punya kandungan yang luar biasa.

Sifat hayyu (kehidupan) mengandung makna bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan mengonsekuensikan sifat sempurna tersebut. Sedangkan sifat qayyum mengandung makna seluruh sifat fi’liyah (sifat yang menunjukkan perbuatan Allah).

Oleh karena itu, nama Al-Hayyu Al-Qayyum termasuk dalam nama Allah yang agung (ism Allah Al A’zham) di mana jika seseorang berdo’a dengannya, akan dikabulkan. Jika meminta dengannya, akan diberi.

Kalau disebut Allah memiliki sifat hayat (kehidupan) yang sempurna, maka tentu Allah terlepas dari berbagai cacat (penyakit). Karenanya, penduduk surga mengalami kehidupan yang sempurna yang tidak lagi merasa cemas, susah, sedih, dan kesengsaraan lainnya.

Kalau sifat hayat (kehidupan) tak sempurna, berarti berpengaruh pada perbuatan yang tidak sempurna. Sehingga sifat qayyum pula jadi tidak sempurna. Sifat qayyum yang sempurna (ketidakbergantungan pada makhluk) pasti berasal dari sifat hayat (kehidupan) yang sempurna. Sifat hayyu (kehidupan) yang sempurna menunjukkan adanya sifat lain yang sempurna. Sedangkan sifat qayyum yang sempurna menunjukkan sifat perbuatan yang sempurna.

Karenanya seseorang yang bertawassul dengan sifat hayyu dan qayyum punya pengaruh besar, di mana ia akan dihilangkan dari sifat yang bertentangan dengan sifat kehidupan (seperti dijauhkan dari penyakit, pen.) dan dapat dihilangkan dari sifat jelek lainnya.”

Amalkan doa di atas dan manfaatkan nama Allah Al-Hayyu Al-Qayyum ketika kita memanjatkan do’a. Moga Allah mengabulkan setiap do’a kita. Aamiin, Ya Mujibas Sa-ilin.

oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Nabi Khidir Masih Hidup atau Sudah Meninggal?

Status kehidupan Nabi Khidir bagaimana, apakah masih hidup?

Pertanyaan : Saya ingin bertanya pada Ustadz.

Adakah Nabi Idris, Nabi Ilyas, Nabi Khidir, dan Nabi Isa masih hidup? Mohon Ustadz jelaskan mengenai persoalan ini.

Terima kasih.

Jawaban :  

Fenomena ini termasuk tema debat yang kerap diperbincangkan masyarakat akar rumput (awam). Maklum saja, karena masyarakat kita umumnya baru mentas dari budaya animisme, sehingga masih sangat gandrung dengan hal berbau klenik. Kendatipun hegemoni teknologi sudah merebak luas, namun semangat mengupas kejadian ‘mistis’ tidak bisa ditinggalkan.

Keadaan akan menjadi ringan, ketika masyarakat bersedia untuk mengembalikan masalah aqidah ini kepada ulama dan merujuk kepada sumber berita yang mutlak benarnya, Alquran dan hadis. Akan tetapi sangat disayangkan, banyak masyarakat kita yang justru mencari jawaban hal yang berbau mistis dan misterius ini ke primbon atau kyai yang masih demen dengan klenik.


Apakah Nabi Khidir masih hidup? 

Berikut kutipan keterangan Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar dalam buku beliau Ar-Rusulu war Risalat;
Sekelompok ulama berpendapat bahwa Khidir masih hidup dan belum mati. Dan terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan hal ini. Keberadaan pendapat belum matinya Nabi Khidir, telah membuka pintu munculnya berbagai khurafat dan kedustaan. Banyak orang yang menyalahgunakan pendapat ini dan mengaku pernah bertemu Nabi Khidir, dan beliau memberikan beberapa nasihat serta menyampaikan berbagai perintah. Kemudian mereka meriwayatkan berbagai cerita aneh tentang Nabi Khidir, dan berbagai berita yang diingkari secara logika yang sehat.

Kemudian, banyak ulama besar muhadditsin (ahli hadis) yang berpendapat lemahnya riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Khidir masih hidup. Di antara ulama hadis yang melemahkan riwayat ini adalah Imam Bukhari, Ibnu Dihyah, Al-Hafidz Ibnu Katsir, dan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani. Alasan terkuat yang mereka sampaikan untuk membantah pendapat masih hidupnya Nabi Khidir:

Pertama, Tidak ada satu pun hadis yang shahih yang menyatakan Nabi Khidir masih hidup.

Kedua, Andaikan beliau masih hidup, tentu diwajibkan bagi beliau untuk mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti dakwah beliau, dan membantu dakwah beliau. Karena Allah telah mengambil janji dari para nabi sebelumnya, untuk beriman kepada Muhammad, membantu beliau, jika mereka berjumpa dengan zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman,

وإذ أخذ الله ميثاق النَّبيين لما آتيتكم من كتابٍ وحكمةٍ ثُمَّ جاءكم رسولٌ مصدقٌ لما معكم لتؤمننَّ به ولتنصرنَّه قال أأقررتم وأخذتم على ذلكم إصري قالوا أقررنا قال فاشهدوا وأنا معكم من الشَّاهدين

(ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, akankah kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. (QS. Ali Imran: 81)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan, bahwa andaikan Musa masih hidup, tentu beliau akan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

فَإِنَّهُ لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ، مَا حَلَّ لَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

Sesungguhnya, andaikan Musa masih hidup di tengah-tengah kalian, tidak halal bagi beliau selain harus mengikutiku.” (HR. Ahmad, 14631)

Ibrahim Al-Harbi pernah bertanya kepada Imam Ahmad, apakah Nabi Khidir dan Nabi Ilyas masih hidup, keduanya masih ada dan melihat kita serta kita bisa mendapatkan riwayat dari mereka berdua.

Kemudian Imam Ahmad menjawab:

من أحال على غائب لم ينصف منه، وما ألقى هذا إلا الشيطان

“Siapa yang menekuni masalah ghaib (klenik), dia tidak akan bisa bersikap proporsional dalam masalah ini. Tidak ada yang membisikkan berita ini kecuali setan.”

Imam Bukhari juga pernah ditanya, apakah Nabi Khidir dan Ilyas masih hidup? Beliau menjawab:
Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لا يبقى على رأس مائة سنة ممن هو على وجه الأرض أحد

“Tidak akan tersisa seorang-pun di muka bumi ini pada seratus tahun yang akan datang.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 4:337)

Sebagian ulama ahli tahqiq memberikan keterangan yang agak panjang lebar untuk membantah alasan pendukung khurafat terkait Nabi Khidir. Di antaranya adalah Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (1:326), Muhammad Amin As-Syinqithi, dalam tafsir beliau Adwaul Bayan (4:184). Bahkan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani membuat satu risalah khusus yang berjudul: Az-Zahr An-Nadhr fi Naba-i Al-Khidr, yang dicetak dalam kumpulan risalah mimbariyah (2:195).

Rasulullah Ada Dimana-mana, Benarkah Itu?

Masih banyak keyakinan aneh yang menyatakan Rasulullah berada dimana-mana, berjalan-jalan di bumi menghadiri perayaan-perayaan yang tidak asalnya dari Islam. Lalu, bagaimana jawaban dan sanggahan atas keyakinan tersebut, simak jawaban yang diberikan oleh Ulama Ahlus Sunnah dibawah ini.

Pertanyaan:

Benarkah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam saat ini ada dimana-mana? Lalu apakah beliau mengetahui perkara gaib?

Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baz -rahimahullah- menjawab:


Tentunya kita semua tahu baik secara logika maupun berdasarkan dalil-dalil bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak berada dimana-mana. Yang benar jasad beliau saat ini berada di makamnya yaitu di kota Madinah Al Munawwarah. Sedangkan ruh beliau ada di Rafiqul A’laa, yaitu di surga. Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits shahih, yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda ketika menjelang wafatnya:

اللهم في الرفيق الأعلى

“Ya Allah, di Rafiqul A’la.” (Al Bukhari di bab Al Jumu’ah (850), juga di Sunan At Tirmidzi bab Ad Da’awat (3496), di Sunan An Nasa’i bab Al Jana’iz (1830), Sunan Ibnu Majah bab Maa Ja’a Fil Jana’iz (1619), di Musnad Ahmad bin Hambal (6/200), di Muwatha Malik bab Jana’iz (562))

Sebanyak 3 kali lalu beliau wafat.

Para ulama Islam di kalangan para sahabat dan yang setelah mereka telah bersepakat bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dimakamkan di rumah ‘Aisyah radhiallahu’anha, bersebelahan dengan masjid beliau yang mulia. Dan jasad beliau tetap berada di sana sampai masa sekarang. Sedangkan ruh beliau, juga ruh para Nabi dan Rasul yang lain, serta ruh orang-orang mu’min semuanya di surga, namun keadaan mereka bertingkat-tingkat sesuai dengan kekhususan yang Allah berikan dalam hal ilmu dan iman juga dalam hal kesabaran dalam menghadapi rintangan di jalan dakwah.

Sedangkan mengenai perkata gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah semata. Adapun Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam serta orang-orang setelah beliau hanya mengetahui hal gaib sebatas yang telah diberitahu oleh Allah saja. Yaitu yang telah dikabarkan melalui Al Qur’anul Karim dan hadits, semisal pengetahuan tentang surga, neraka, gambaran keadaan hari kiamat, atau perkara lain yang terdapat penjelasan dari Al Qur’anul Karim dan hadits yang shahih. Semisal itu juga, pengetahuan tentang turunnya Dajjal, akan terbitnya matahari dari barat, keluarnya dabbah, turunnya Nabi Isa Al Masih bin Maryam di akhir zaman, atau perkara-perkara lainnya.

Berdasarkan firman Allah Azza Wa Jalla di surat An Naml :

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (Qs. An Naml: 65)

Juga firman Allah di surat Al An’am:

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ

“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib.” (Qs. Al An’am: 50)

Juga firman Allah di surat Al A’raf:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”” (Qs. Al A’raf: 188)

Ayat-ayat lain yang maknanya senada sangatlah banyak.

Terdapat banyak hadits shahih yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara gaib. Salah satunya sabda beliau ketika ditanya oleh Jibril tentang kapan terjadinya kiamat:

ما المسئول عنها بأعلم من السائل

“Yang bertanya (Malaikat Jibril) pun tidak lebih mengetahui dari yang ditanya (Rasulullah).” (HR. Al Bukhari bab Al Iman, no.50; Muslim bab Al Iman, no.10; An Nasa’i bab Al Iman Wa Syara’i-’u-hu , no. 4991; Ibnu Majah bab Muqaddimah, no. 64; Ahmad, 2/426)

Kemudian beliau ditanya tentang 5 tanda kiamat yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, beliau membacakan ayat Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan.” (Qs. Luqman: 34)

Dalil lain, ketika ahlul ifki menuduh ‘Aisyah radhiallahu’anha berbuat zina, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidaklah mengetahui tuduhan tersebut benar ataukah bohong, sampai akhirnya turun wahyu dari Allah dalam surat An Nur.

Dalil lain, ketika ‘Aisyah ikut pada sebagian peperangan, kalungnya hilang. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun tidak mengetahui dimana kalung tersebut berada sehingga beliau mengutus beberapa orang untuk mencarinya namun hasilnya nihil. Setelah unta milik ‘Aisyah berdiri barulah diketahui ternyata kalung tersebut selama ini ada di bawah unta. Ini beberapa hadits dari sekian banyak hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak mengetahui hal gaib.

Sedangkan apa yang disangkakan oleh sebagian orang sufi bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengetahui hal gaib dan beliau hadir di perayaan-perayaan mereka semisal mereka menyangka bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam hadir di tengah mereka ketika perayaan Maulid Nabi, atau perayaan yang lain, ini semua adalah sangkaan yang salah dan tidak memiliki dasar. Keburukan ini disebabkan oleh ketidak-pahaman mereka terhadap Al Qur’an dan hadits sebagaimana yang dipahami oleh salafus shalih.

Kita memohon kepada Allah semoga kita dan kaum muslimin semua diberi keselamatan dari musibah yang menimpa mereka, kita juga memohon kepada Allah agar memberikan petunjuk bagi kita dan seluruh kaum muslimin kepada jalan yang lurus. Sungguh Allah maha mendengar dan mengabulkan doa.

Tiga Waktu Penting Membaca Ayat Kursi

Ada beberapa keterangan dari hadits shahih seputar tiga waktu utama untuk membaca ayat yang paling mulia di dalam Al Qur'an, yaitu Ayat Kursi, berikut adalah tiga waktu tersebut :

http://www.ayat-kursi.com

1. Ketika pagi dan petang

Mengenai orang yang membaca ayat kursi di pagi dan petang hari, dari Ubay bin Ka’ab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَرَأَتْهَا غُدْوَةً أُجِرَتْ مِنَّا حَتَّى تُمْسِيَ ، وَإِذَا قَرَأَتْهَا حِيْنَ تُمْسِي أُجِرَتْ مِنَّا حَتَّى تُصْبِحَ

“Siapa yang membacanya ketika petang, maka ia akan dilindungi (oleh Allah dari berbagai gangguan) hingga pagi. Siapa yang membacanya ketika pagi, maka ia akan dilindungi hingga petang.” (HR. Al Hakim 1: 562. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits tersebut dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 655)

2. Sebelum tidur

Hal ini dapat dilihat dari pengaduan Abu Hurairah pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang mengajarkan padanya ayat kursi.

دَعْنِى أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا . قُلْتُ مَا هُوَ قَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ ، فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ » . قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ ، يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ . قَالَ « مَا هِىَ » . قُلْتُ قَالَ لِى إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) وَقَالَ لِى لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ ، وَكَانُوا أَحْرَصَ شَىْءٍ عَلَى الْخَيْرِ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ » . قَالَ لاَ . قَالَ « ذَاكَ شَيْطَانٌ »

Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengaku bahwa ia mengajarkan suatu kalimat yang Allah beri manfaat padaku jika membacanya. Sehingga aku pun melepaskan dirinya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa kalimat tersebut?” Abu Hurairah menjawab, “Ia mengatakan padaku, jika aku hendak pergi tidur di ranjang, hendaklah membaca ayat kursi hingga selesai yaitu bacaan ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum’. Lalu ia mengatakan padaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku dan setan pun tidak akan mendekatimu hingga pagi hari. Dan para sahabat lebih semangat dalam melakukan kebaikan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?” “Tidak”, jawab Abu Hurairah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia adalah setan.” (HR. Bukhari no. 2311)

3. Setelah shalat lima waktu

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الجَنَّةِ اِلاَّ اَنْ يَمُوْتَ

“Siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.” (HR. An-Nasai dalam Al Kubro 9: 44. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, sebagaimana disebut oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram). Maksudnya, tidak ada yang menghalanginya masuk surga ketika mati.

Intinya, ayat kursi punya keutamaan yang luar biasa sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.

عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ ». قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ ». قَالَ قُلْتُ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ. قَالَ فَضَرَبَ فِى صَدْرِى وَقَالَ « وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ »

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abul Mundzir, ayat apa dari kitab Allah yang ada bersamamu yang paling agung?” Aku menjawab, “Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qayyum.” Lalu beliau memukul dadaku dan berkata, “Semoga engkau mudah memperoleh imu, wahai Abul Mundzir.” (HR. Muslim no. 810)

Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan, “Hadits ini adalah dalil akan bolehnya mengutamakan sebagian Al-Qur’an dari lainnya dan mengutamakannya dari selain kitab-kitab Allah. … Maknanya adalah pahala membacanya begitu besar, itulah makna hadits.”

Apa sebab ayat kursi lebih agung? Imam Nawawi menyebutkan, para ulama berkata bahwa hal itu dikarenakan di dalamnya terdapat nama dan sifat Allah yang penting yaitu sifat ilahiyah, wahdaniyah (keesaan), sifat hidup, sifat ilmu, sifat kerajaan, sifat kekuasaan, sifat kehendak. Itulah tujuh nama dan sifat dasar yang disebutkan dalam ayat kursi. (Syarh Shahih Muslim, 6: 85)

oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Mengapa Puasa Wanita Tidak Berjilbab tidak Diterima?


Kita meyakini amal soleh di bulan ramadhan, pahalanya dilipat gandakan. Dan kita juga perlu sadar bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan manusia di bulan ramadha, dosanya juga dilipat gandakan.

Al-Allamah Ibnu Muflih dalam kitabnya Adab Syar’iyah menyatakan,

فصل زيادة الوزر كزيادة الأجر في الأزمنة والأمكنة المعظمة

Pembahasan tentang kaidah, bertambahnya dosa sebagaimana bertambahnya pahala, (ketika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia.

Selanjutnya, Ibnu Muflih menyebutkan keterangan gurunya, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah,

قال الشيخ تقي الدين: المعاصي في الأيام المعظمة والأمكنة المعظمة تغلظ معصيتها وعقابها بقدر فضيلة الزمان والمكان

Syaikh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumnya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut. (al-Adab as-Syar’iyah, 3/430).

Orang yang melakukan maksiat di bulan ramadhan, dia melakukan dua kesalahan,

Pertama, melanggar larangan Allah

Kedua, menodai kehormatan ramdhan dengan maksiat yang dia kerjakan.

Karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman keras orang yang masih rajin bermaksiat ketika puasa. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari 1903, Turmudzi 711 dan yang lainnya).

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan keterangan dari Ibnul Munayir,

هو كناية عن عدم القبول ، كما يقول المغضب لمن رد عليه شيئا طلبه منه فلم يقم به : لا حاجة لي بكذا . فالمراد رد الصوم المتلبس بالزور وقبول السالم منه

Ini merupakan ungkapan tidak diterimanya puasanya. Seperti orang yang sedang marah, ketika dia menyuruh orang lain tapi tidak dilakukannya, kemudian dia mengatakan, “Aku gak butuh itu.” Sehingga maksud hadis, menolak puasa orang yang masih aktif berbuat dosa, dan tidak menerima dengan baik darinya. (Fathul Bari, 4/117).
Buka Aurat, Menebar Dosa

Ketika wanita memamerkan auratnya, yang terjadi, dia sedang menjadi sumber dosa. Dosa bagi setiap lelaki yang melihat dirinya. Itulah para wanita yang menjadi sebab banyak lelaki melakukan zina mata… para wanita yang mengobral harga diri dan auratnya di depan umum, tanpa rasa malu.

Karena itu, cara memahaminya bukan sekali memamerkan aurat, sekali berbuat dosa, bukan demikian. Tapi juga perlu diperhatikan berapa jumlah lelaki yang terkena dampak dari dosa yang dia lakukan.

Karena itu, wajar jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman sangat keras untuk model manusia semacam ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua jenis penghuni neraka yang belum pernah aku lihat. (1) Sekelompok orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dan dia gunakan untuk memukuli banyak orang. (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, jalan berlenggak-lenggok, kepalanya seperti punuk onta, mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan harumnya surga, padahal bau harum surga bisa dicium sejarak perjalanan yang sangat jauh.” (HR. Ahmad 8665 dan Muslim 2128).
Puasanya Tidak Diterima

Jika puasa seseorang menjadi tidak bernilai gara-gara dosa yang dia kerjakan. Apa yang bisa anda bayangkan, ketika ada orang yang menjadi sumber dosa? Layakkah dia berharap puasanya diterima? Bahkan karena sebab dia, banyak lelaki yang pahala puasanya berkurang..

oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Tulisan Ayat Kursi, Lafadzh Allah, Muhammad Pada Liontin dan Pakaian

Sekarang ini makin marak Lafadzh Allah, Muhammad, dan Ayat Kursi dijadikan kalung, beragam motivasinya ada yang sekedar untuk bergaya, bahkan menjadikan Liontin, Kalung, dan sebagainya sebagai alat pengusir setan dan menolak sial dan bencana. Lalu, bagaimana ulama Islam menanggapi hal ini, berikut penjelasannya.



Pertanyaan :

Apakah hukum tulisan ayat kursi atau lafazh Allah dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada liontin emas atau yang lainnya?

Jawaban oleh Abdullah bin Muhammad bin Humaid rahimahullah :

Ini merupakan suatu kesalahan, karena Al Qur’an tidaklah diturunkan untuk permainan, seperti diukir pada perhiasan emas atau bejana atau yang semisalnya. Al Qur’an hanyalah diturunkan oleh Allah Ta’ala sebagai penawar hati yang berpenyakit, petunjuk bagi manusia, cahaya, rahmat, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. Al Qur’an tidaklah diturunkan untuk diukir dan digantung pada perhiasan atau pada pakaian, kemudian dibawa masuk ke kamar mandi ketika buang hajat. Maka hal ini sungguh tidaklah pantas.

Al Qur’an harus dimuliakan, diagungkan dan dijauhkan dari perbuatan jelek tadi. Allah Ta’ala menurunkan Al Qur’an adalah sebagai petunjuk, sebagaimana Allah firmankan:

{وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا}

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” [QS. Al Isra':82]

Maka sungguh perbuatan menggantungkan Al Qur’an seperti hal tersebut (diatas) tidaklah boleh, bahkan harus dihapus (tulisan ayat-ayat) Al Qur’an yang ada pada perhiasan emas atau selainnya, karena padanya pelecehan terhadap Al Qur’an. Demikian pula ketika buang hajat di kamar mandi atau yang lainnya, dalam keadaan dia membawa (ayat-ayat) Al Qur’an (pada perhiasan atau pakaiannya), maka hal ini tidaklah diperbolehkan, bahkan harus dia hapus darinya sebagai bentuk pengagungan dan pemulyaan terhadap Al Qur’an dari perbuatan yang demikian, sebagaimana hal ini telah ditetapkan oleh para Ulama. Wallahu a’lam.

Meletakkan Ayat Kursi di Mobil


Banyak dikalangan muslimin meletakkan Ayat Kursi di kendaraan seperti Mobil. Bagaimana hukumnya?

Pertanyaan : Bagaimana hukum seseorang yang meletakkan ayat kursi di mobilnya atau meletakkan sebuah benda yang terdapat bacaan-bacaan doa padanya seperti doa naik kendaraan atau doa bepergian dan selainnya dari doa-doa?

Jawaban oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhahullah :

Perkaranya dirinci, jika dia meletakkan perkara-perkara di atas dalam rangka untuk menghafalkannya dan untuk mengingat bacaannya, maka ini boleh. Seperti halnya yang meletakkan mushaf di depan mobilnya atau di dekatnya dalam rangka dia atau yang bersamanya akan membacanya jika ada kesempatan, maka ini boleh dan tidak mengapa.

Akan tetapi kalau dia menggantungkan perkara-perkara di atas dalam rangka menolak bala, maka pembahasannya kembali kepada hukum menjadikan Al-Qur’an sebagai jimat dan pendapat yang kuat tidak diperbolehkan dan diharamkan.

Sumber: Syarh Kitab Tauhid.