Kisah Ustadz Yazid Jawas dan Polisi Jepang

Sebuah kisah menarik tentang pengalaman Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas ketika mengisi kajian di Kobe, Jepang. Kisah ini diceritakan oleh Ustadz Prof. Andy Bangkit hafizhahullah, salah seorang Ustadz sekaligus profesor yang mengajar di Universitas Nagoya Jepang. Berikut ini kutipan kisahnya.

FAKTA 7: POLISI JEPANG

Berkata al Imam al Faqih al Muhadits Abdullah Muhammad bin Muflih al Maqdisi rahimahullah ta`aladalam kitabnya al Adaabusy Syar`iyah (II/8): Telah berkata al Khalal: Telah berkata kepada kami Ishaaq bin Ibrahim, atau yang dikenal dengan nama Lu`lu`, ia berkata: Abu Abdullah Kabsy az Zanadiqah hadir dalam sebuah majelis, maka aku pun berkata kepadanya:

“Hai musuh Allah! Engkau hadir di majelisnya Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal)? Apa yang kamu perbuat di sini?”

Imam Ahmad pun mendengar perkataanku itu, dan beliau berkata:

“Ada apa denganmu?”

Aku pun berkata:

“Ini musuh Allah, Kabsy si Zindiq hadir di majelis ini”.

Beliau pun berkata:

“Siapa yang memerintahmu seperti itu (Hai Lu`lu`)? Dari siapa engkau ambil (sikap seperti) ini? Ajaklah manusia untuk mengambil ilmu supaya mereka berubah. Semoga Allah memberi mereka manfaat dengan ilmu itu”.

Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas
Kata Mutiara Ustadz Yazid

Sebagaimana biasanya, setiap musim panas ikhwah di Jepang mengadakan dauroh dengan mendatangkan ustadz dari Indonesia. Pada kali ini, yang berkesempatan datang di dauroh yang diadakan di Masjid Kobe adalah ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz hafidzahullah. Akhirnya, hari-hari dauroh itupun datang juga.

Adalah sebuah kebiasaan yang telah dipahami oleh sebagian ikhwah di Jepang bahwa apabila diadakan dauroh di Masjid Kobe—dan juga di tempat lain—maka terkadang ada orang-orang dari pihak kepolisian Jepang terdekat yang baik itu secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan datang untuk mencari tahu apa yang sedang kita lakukan. Tidak berbeda pula dengan hari itu.

Ketika itu hari sangat terik, dan ada dua orang anggota polisi Jepang yang sembunyi-sembunyi—dengan cara berdiri di depan gerbang masjid—mencari tahu kegiatan dauroh ini. Panasnya matahari dan suhu ketika itu rupanya tidak menjadikan mereka mundur dari tugas itu.

Ustadz Yazid pun melihat mereka dan bertanya:

“Itu orang ngapain?”

Kami pun menjawab: Biasa ustadz, mereka dari kepolisian yang mencari tau kegiatan. Kayak mata-mata gitu…

Ustadz Yazid kemudian berkata:

“Kasihan mereka…hari terik begini. Suruh saja mereka masuk supaya mereka juga lihat sendiri apa yang kita lakukan. Biar mereka tahu bahwa kita menuntut ilmu, belajar di sini. Antum yang bisa bahasa Jepang, tolong diterjemahkan saja di belakang. Dan bilang ke mereka, jangan gaduh supaya tidak mengganggu yang sedang belajar. Siapa tahu ada manfaatnya bagi mereka”.

Akhirnya, kita undang kedua orang polisi itu dan mereka duduk dengan senangnya di bagian belakang majelis. Salah seorang ikhwan membantu mereka dengan menterjemahkan apa yang dijelaskan oleh ustadz Yazid.

Esoknya, hari kedua dauroh dimulai. Ada sedikit kekagetan di antara ikhwah panitia. Mereka mendapatkan beberapa parsel berisi buah-buahan dari para polisi itu sebagai bentuk terima kasih mereka karena diajak masuk ke majelis.